FATSAL YANG HILANG : MENELUSURI JEJAK NU di MALANG RAYA, BERAWAL di SHINGASARI

gambar :
  1. KH. KHOLIL dan Mbah KH. THOHIR BUNGKUK
  2. Rumah di PAGENTAN yang jadi saksi bisu DISKUSI mbah KH. WAHAB dan Mbah KH. THOHIR sebelum mendirikan NU.

DESA PAGENTAN, KECAMATAN SINGOSARI, KABUPATEN MALANG, MEMILIKI SEJARAH YANG SANGAT PENTING MENJELANG BERDIRINYA ORGANISASI KEAGAMAAN TERBESAR DI TANAH AIR: NAHDLATUL ULAMA (NU). DI HARI LAHIR KE-95 NU HARI INI (31/1), JAWA POS RADAR MALANG MEMBEBER PROSES SEBELUM NU DIRESMIKAN DI SURABAYA PADA 31 JANUARI 1926.

Rumah bercat warna hijau tampak berdiri gagah di pinggir Jalan Raya Desa Pagentan, Singosari. Rumah itu kira-kira berukuran 8 meter x 12 meter. Halaman depan, kanan-kiri rumah bergaya kuno itu masih cukup luas. Rumah itulah yang menjadi saksi bisu di mana salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah dari Tambakberas, Jombang, banyak berdiskusi ke KH Moh Thohir, pengasuh Ponpes Miftahul Falah, Bungkuk, Singosari.

Mbah Bungkuk–panggilan lain KH Moh Thohir– ini juga salah satu guru dari KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar NU dari Ponpes Tebuireng, Jombang.

Dari rumah itulah diskusi rutin antara Mbah Bungkuk dengan KH Wahab Chasbullah yang kadang juga ditemani KH Kholil Syafi’i berlangsung dan tercetus ide untuk membuat sebuah organisasi untuk melawan penjajah.

KH Kholil adalah menantu dari Mbah Bungkuk sekaligus teman karib Mbah Wahab. Pertemuan intens mereka itu terjadi sejak tahun 1920. Sejak itulah KH Wahab kerap datang ke Singosari.

Selain karena menimba ilmu tirakat yang menjadi spesialisasi Mbah Bungkuk, dia juga meminta saran urusan perjuangan berorganisasi. Khususnya untuk menguatkan basis akidah ahlussunnah wal jamaah yang kala itu masih lemah. Apalagi, kooptasi penjajah Belanda yang mencengkeram membuat umat Islam khususnya kala itu benar-benar kurang berdaya dalam bergerak.

”Mbah Wahab memang kerap datang ke rumah (rumah KH Thohir di Bungkuk, Pagentan, Singosari) untuk belajar agama serta minta nasihat dalam mendirikan NU,” cerita Gus Imron Rosyadi Hamid, salah satu cucu menantu dari KH Kholil.

Kisah ini juga diperkuat dalam buku Kumpulan Tulisan Anisah Mahfudz: Persemaian Patriotisme Pesantren. Dalam buku itu disebut jika peran Mbah Thohir cukup signifikan terhadap perkembangan NU awal 1926. Pesantren maupun rumahnya dijadikan tempat berdiskusi secara intens. Dari dua tempat itulah muncul sebuah ide mendirikan sebuah organisasi Islam NU.

Gus Imron yang juga masih kerabat dengan KH Wahab Chasbullah itu menambahkan, hubungan antara KH Thohir, KH Wahab, dan KH Kholil layaknya saudara. Hal itu karena mereka cukup sering bersama-sama panen kopi dan ngopi bareng sambil membahas mengenai gerakan umat muslim untuk meraih kemerdekaan.

Dalam diskusi itu, muncul ide dari KH Wahab untuk membuat satu organisasi yang mewadahi umat Islam. Dari ide itulah, KH Wahab terus berkonsultasi dengan KH Thohir untuk mematangkan pendirian ormas Islam. Singkat cerita, dari konsultasi itu pula muncul ide nama Nahdlatul Ulama.

”Jadi, Mbah Thohir menjadi sosok penting bagi Mbah Wahab dalam mendirikan NU pada 1926 serta dianggap sebagai penasihat kala itu,” ucap Gus Imron.

Selain peran besar dari KH Thohir, ide-ide KH Kholil yang disumbangkan ke KH Wahab Chasbullah cukup berpengaruh menjelang dan sesudah NU berdiri. Terutama dalam melibatkan pesantren untuk memperjuangkan kemerdekaan. Juga dalam hal menyebarkan dakwah Islam ahlussunnah wal jamaah. KH Kholil ini yang begitu gigih berada di ”garda depan” menjadi salah satu think tank (pemikir) andalan KH Wahab. KH Kholil ini pula yang cukup getol menyebarkan paham Islam ahlussunnah wal jamaah di Malang. Singkat cerita, pada 31 Januari 1926, NU resmi berdiri di Surabaya.

Sumber: https://www.facebook.com/100013905520364/posts/1173196769820496/

Previous
Next Post »